Sabtu, 03 Februari 2018

WISATA DI KOTA MOJOKERTO
      

     brahu


Letak
Candi Brahu terletak di Dukuh Jambu Mente, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto., propinsi Jawa Timur. Tepat di depan kantor Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Timur yang terletak di jalan raya Mojokerto-Jombang, terdapat jalan masuk ke arah utara yang agak sempit .Namun telah diaspal.  Candi Brahu terletak di sisi kanan jalan kecil tersebut, sekitar 1,8 km dari jalan raya
SEJARAH CANDI BRAHU
Candi Brahu sudah dibangun sebelum masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk dan diperkirakan di bangun pada masa raja Brawijaya I. Dapat dikatakan bahwa Candi Brahu merupakan candi yang paling tua dibandingkan dengan candi-candi lainnya yang ada di Trowulan.  Candi ini merupakan pandarmaan dari raja Brawijaya, mulai dari yang pertama sampai keempat. Memang candi ini telah di restorasi, namun tidak bisa secara utuh karena kesulitan akibat bangunan candi yang terbuat dari batu  bata merah. Bisa dikatakan bahwa bangunan yang sekarang berdiri itu sudah mengalami pembenahan namun tetap masih candi yang lama, hanya sedikit tambahan saja.
Berdasarkan  bentuk  stupa   yang  ada pada sekitar candi, candi Brahu bersifat budhis. Kita tinggalkan dulu mengenai candi Brahu, kita beralih ke Majapahit. Majapahit merupakan sebuah kerajaan yang besar pada masa Hindu-Budha. Majapahit merupakan kerajaan Hindu. Pusatnya dihutan Tarik, dengan raja pertama Raden Wijaya. Masa puncak kejayaannya pada masa kepemimpinan Hayam Wuruk yang berkolaborasi dengan kejeniusan sang Maha Patih Gajah Mada dengan gagasan Nusantaranya. Banyak peninggalan-peninggalan Majapahit yang terkenal di Trowulan, mulai dari candi Bajang Ratu sampai candi Brahu. Kami disini sebagai penyusun akan membahas mengenai candi Brahu saja.
Seperti  yang  telah  diterangkan  diatas  bahwa candi Brahu merupakan candi tertua di Trowulan yang dibangun untuk mengenang atau sebagai pendarmaan dari raja Brawijaya yang pertama sampai keempat. Dan juga candi ini ada yang mengatakan unsur budha, namun ada pula campuran dari Sywaisme.
Bisa kita telaah kepada masyarakat  sekitar bahwa mulai dari budaya sampai kesenian berkembang dan bahkan sekarang menjadi sebuah lapangan pekerjaan bagi masyarakat Trowulan. Ada yang ahli lukisan, ada yang ahli patung dan sebagainya. Tentunya ini menjadi sebuah aset budaya yang harus dipertahankan oleh bangsa kita. bahwa kita memiliki sosio-budaya yang menarik dan luar biasa dan tidak kalah bila dibnadingkan dengan bangsa asing. Bisa dilihat pula dengan adanya hal demikian membantu perekonomian masyarakat Trowulan yang secara otomatis akan membantu mengurangi pengangguran di Indonesia. Jikalau Indonesia (dalam hal ini pemerintah) bisa memanfaatkan peninggalan-peninggalan sejarah dengan baik dan mempergunakanya untuk kesejahteraan bangsa kita. Tentunya dengan melestarikan dan menjaga peninggalan sejarah tersebut tanpa mengurangi fungsi dasarnya.
Candi Brahu sendiri diperkirakan usianya lebih tua dari kerajaan Majapahit. Hal ini didasarkan pada prasasti  tembaga Alasantan yang ditemukan kira-kira  45 masehi di sebelah barat candi Brahu. Prasasti ini berangka tahun 861 saka atau 9 September 939 Masehi atas perintah raja Empu Sindok dari Kahuripan.
Menurut masyarakat sekitar, candi Brahu berfungsi sebagai tempat pembakaran jenazah raja-raja Brawijaya. Akan tetapi berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap candi tersebut tidak menunjukkan adanya “bekas” abu atau mayat, melainkan keadaan bilik candi Brahu yang sekarang sudah kosong.
Disekitar kompleks candi Brahu pernah ditemukan benda-benda kuno, antara lain alat upacara dari logam, perhiasan dan benda-benda dari emas, dan arca-arca logam di mana hal tersebut menunjukkan adanya cirri-ciri agama Budha. Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa candi Brahu merupakan candi Budha.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar